Pembalap MotoGP memakai motor matic di Mandalika bukan untuk menggantikan motor balap MotoGP, melainkan terutama untuk mobilitas sehari-hari dan aktivitas di sekitar sirkuit.
Pada GP Indonesia 2026 yang berlangsung 9–11 Oktober, misalnya Toprak Razgatlioglu terlihat menggunakan Yamaha NMAX dan Luca Marini menggunakan Vario 160 sebagai andalan dia setelah tiba di Lombok.
Ulasan Mengapa pembalap MotoGP memilih motor matic di Mandalika?
1. Praktis untuk mobilitas di area sirkuit
Area paddock sangat luas. Pembalap, kru, dan mekanik harus berpindah antara garasi, hospitality, kantor tim, media center, dan fasilitas lainnya. Motor matic jauh lebih praktis daripada berjalan kaki atau menggunakan mobil untuk jarak pendek. Dalam gelaran MotoGP sebelumnya di Mandalika, skuter memang digunakan sebagai paddock bike untuk mobilisasi pembalap dan kru.
2.Transmisi otomatis memudahkan pembalap
Pembalap MotoGP sudah menghabiskan banyak energi dan konsentrasi ketika mengendarai motor balap. Untuk perjalanan santai, motor matic tidak membutuhkan pengoperasian kopling dan perpindahan gigi manual. Jadi, lebih nyaman untuk sekadar berpindah tempat.
3.Lebih cocok untuk kecepatan rendah
Motor MotoGP dibuat untuk melaju sangat cepat di lintasan, bukan untuk merayap di paddock atau berkendara santai di jalan umum. Skuter memiliki karakter yang lebih sesuai untuk kecepatan rendah, berhenti-jalan, dan bermanuver diarea yang ramai.
4.Ergonomi lebih nyaman
Posisi duduk skuter lebih tegak dan santai dibanding motor balap. Ini penting karena rider perlu menjaga kondisi fisik. Menggunakan motor matic untuk aktivitas nonbalap membantu mereka tidak terus-menerus berada dalam posisi agresif seperti ketika mengendarai motor balap.
5.Faktor keamanan dan kontrol
Di lingkungan paddock banyak orang, peralatan tim, kendaraan operasional, dan aktivitas teknis. Motor yang sederhana dikendalikan dan responsnya mudah diprediksi lebih cocok untuk kondisi tersebut. Karena itu, penggunaan skuter lebih masuk akal daripada membawa motor berperforma tinggi.
Jadi, jangan heran melihat pembalap kelas dunia turun dari motor balapnya lalu santai mengendarai NMAX, Vario, Aerox, PCX, atau skuter listrik. Itu justru menunjukkan bahwa mereka memakai kendaraan sesuai kebutuhan, bukan karena motor MotoGP tidak bisa dipakai.
Kesimpulan: Fenomena pembalap MotoGP menggunakan motor matic di Mandalika merupakan kombinasi kepraktisan, kenyamanan, keamanan, kebutuhan mobilitas paddock, dan promosi industri sepeda motor Indonesia.
Dalam konteks GP 2026, penggunaan NMAX oleh Toprak juga menjadi momen menarik karena memperlihatkan sisi “lokal” dan santai seorang pembalap dunia saat berada di Lombok.
Jadi, motor kalian ada yang dipakai pembalap Favorite kamu nggak di Mandalika tahun ini ?
